MENJADI GURU BERADAB
Oleh: Dr. Adian Husaini
Dalam pandangan Islam, guru adalah ilmuwan dan muaddib (pendidik), karena tugas guru memang menanamkan adab dan berbagi ilmu. Dunia pendidikan sudah maklum, bahwa sukses dan gagalnya pendidikan bergantung kepada kualitas guru. Sebuah mahfudhat yang terkenal menyatakan: ‘... wal-ustādzu ahammu min al-tharīqah, wa rūhul ustadz ahammu min al-ustadz.” (... guru lebih penting daripada metode; dan jiwa guru lebih penting dari pada guru itu sendiri).
Ungkapan tersebut menekankan, bahwa perbaikan pendidikan memang harus dimulai dari perbaikan jiwa guru, yakni dari pola pikir dan amaliahnya. Dan itu harus dimulai dari pendidikan guru yang benar. Tidak mengherankan, jika para ulama begitu banyak menulis kitab tentang guru dan bagaimana menjadi guru yang baik. Salah satu ulama yang memberikan perhatian dalam masalah konsep adab yang memuat juga tentang adab guru adalah Ibn Jama’ah.
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah bin Ali bin Jama’ah bin Hazim bin Shakhr, lahir di Ham‘ah tahun 639 H). Kitab beliau yang terkenal adalah “Tadzikrah al-Sami’ wa al-Mutakkalim Fî Adab al-‘Ilm wa al-Muta’allim”. Berikut ini adalah petikan adab ilmuwan (guru) yang diringkas oleh Dr. Akhmad Alim (seorang ulama muda dan dosen Universitas Ibn Khaldun Bogor) dari Kitab Ibnu Jamaah tersebut:
(a) Adab Ilmuwan Terhadap Dirinya Sendiri (Adab al-‘Alim fī Nafsihī)
Seorang ilmuwan harus syarat dengan adab. Tanpa adab, dirinya akan terjatuh dalam celaan, dan ilmu yang ada pada dirinya tidak membawa manfaat. Oleh karena itu, adab merupakan hal yang amat penting yang harus diperhatikan oleh setiap ilmuwan, agar ilmu yang dimilikinya menjadi penghias kebaikan, dan teladan bagi kehidupan. Adab ini secara keseluruhan akan menjadi pilar, yang mengantarkan ilmuwan ke dalam derajat keagungan, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Allah dalam QS.Al-Mujadilah : 11
“Allah mengangkat orang beriman dan berilmu beberapa derajat di antaramu beberapa derajat…” (Q.S. Al-Mujadalah : 11)
Dalam Kitab Tadzkirah Al-Sami’ Wa Al-Mutakallim disebutkan bahwa ada dua belas butir adab personal yang harus dimiliki oleh setiap ilmuwan, sehingga dengan adab tersebut akan lahir dari setiap ilmuan kepribadian yang patut untuk dicontoh dan dijadikan teladan dalam kehidupan. Adab tersebut adalah sebagaimana berikut :
1. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan merasa diawasi oleh-Nya (muraqabatullah), baik ketika sendirian, maupun di keramaian. Dengan demikian, akhlaknya akan tetap terjaga, baik lisannya, perbuatannya, pemikirannya, dan pemahamannya, serta amanah keilmuaannya.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal : 27)
Ayat ini ditafsirkan oleh Ibn Jama’ah, bahwa dengan muraqabatullah seorang ilmuan tidak akan berperilaku khianat atas ilmu yang diamanahkan kepadanya, karena khianat ilmu berarti sama dengan menghianati Allah dan Rasul-Nya. Ibn Jama’ah berdalil bahwa ilmuan (ulama) adalah pewaris para Nabi dan Rasul, “para ulama adalah pewaris Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.“ (HR. Tirmizi).
2. Hendaknya setiap ilmuan memelihara ilmunya, sebagaimana para ulama salaf memeliharanya. Artinya, ia senantiasa menjaga ilmunya agar tidak jatuh ke dalam-hal yang rendah dan hina. Seperti menukar ilmu dengan segala hal yang sifatnya materi duniawi, sehingga dirinya terhalang dalam menyampaikan kebenaran, karena kebenaran yang ada pada ilmunya telah tergadaikan dengan dunia.
3. Hendaknya setiap ilmuan berperilaku zuhud dalam urusan duniawi. Artinya, dirinya tidak menggantungkan ilmunya pada kepentingan duniawi. Dunia hanya sebagai sarana penunjang keilmuannya, bukan tujuan akhir dalam kehidupannya.
4. Hendaknya setiap ilmuan tidak menjadikan ilmunya sebagai alat untuk mencapai kepentingan-kepentingan duniawi, berupa jabatan, kekayaan, popularitas, atau untuk bersaing dengan orang lain. Dengan demikian, dirinya akan terhindar dari sifat tamak terhadap dunia, yang semua itu akan menjatuhkannya dalam kehinaan.
5. Hendaknya setiap ilmuan menghindari segala profesi, atau tempat-tempat yang secara syari’at dan adat dipandang kurang bermartabat. Hal itu, untuk menghindari praduga-praduga negatif yang menjatuhkan martabat (muru’ah) ilmuan.
6. Hendaknya setiap ilmuan menjaga syi’ar-syi’ar keislaman. Seperti melazimkan shalat secara berjama’ah di masjid, menyebarkan salam, beramar ma’ruf nahi munkar, sabar dan santun dalam bersikap. Demikian juga termasuk bagian syi’ar adalah berpegang teguh terhadap sunnah dalam bersikap, dan menjauhi segala macam bid’ah. Semua itu, akan melahirkan citra posisif terhadap diri ilmuan dan ilmu yang diembannya.
7. Hendaknya setiap ilmuan menjaga amalan-amalan sunah, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan. Seperti, rutinitas membaca Al-Qur’an beserta renungan maknanya, menjaga shalat-shalat sunat, puasa-puasa sunat, qiyamul lail, berdzikir, bershalawat, bertasbih. Demikian itu akan menambah kekuatan ruhani pada diri ilmuwan, sehingga teguh pendiriannya dalam mengemban amanah ilmunya.
8. Hendaknya setiap ilmuan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap masyarakat, memperlakukan mereka dengan akhlak yang mulia. Seperti, berwajah ceria saat berjumpa orang lain, menyebarkan salam, peduli sosial, membatu orang yang sedang kesusahan, pandai berterimakasih, membela orang yang tertindas, lemah lembut terhadap fakir miskin, dan bekerjasama dalam kebajikan.
9. Hendaknya setiap ilmuan mensucikan dirinya dari segala bentuk akhlak tercela, dan menghiasi dirinya dengan akhlak terpuji, baik lahir maupun batin. Oleh karenanya seorang ilmuan harus mengosongkan dirinya dari sifat iri hati, pemarah, menipu, takabur, pamer, mencari popularitas (sum’ah), persaingan duniawi, dusta, kikir. Kemudian mengisi dirinya dengan sifat qana’ah, pemaaf, jujur, tawadhu’, ikhlas, sidiq, amanah, dermawan.
10. Hendaknya setiap ilmuan rajin menambah wawasan keilmuannya, dengan cara memperbanyak membaca, menghapal, menganalisa, mengkaji masalah, meneliti, dan menuangkannya dalam bentuk karya ilmiyah. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh Imam Syafii, dimana menurut salah satu muridnya yang bernama Ar-Rabi’, bahwa Imam Syafii jarang makan pada siang harinya, dan jarang tidur pada malam harinya, karena disibukkan dengan mengkaji banyak masalah-masalah keilmuan dan membukukannya.
11. Hendaknya setiap ilmuan tidak segan untuk belajar kepada orang yang berada di bawahnya, baik secara usia, kedudukan, maupun nasab. Hal itu dikarenakan, ilmu dan hikmah adalah barang yang hilang dari dari tangan orang mukmin, yang harus diraih kembali kepangkuannya.
12. Hendaknya setiap ilmuan memiliki keahlian dalam dunia tulis menulis, khususnya dalam bidang yang ditekuninya. Hal itu dimaksudkan sebagai wahana untuk menyalurkan ilmunya di tengah-tengah masyarakat luas, dan pengembangan dunia akademik.
(b) Adab Ilmuwan dalam Proses Pengajaran (Adab al-‘Alim Fī Darsihī)
Setelah seorang ilmuwan memenuhi dua belas adab personal sebagaimana yang telas disebutkan di atas, selanjutnya ia dituntut pula untuk mengaplikasikan adab akademis lainnya yang berkaitan dengan kegiatan pengajaran yang ditekuninya. Dalam hal ini, Ibn Jama’ah menguraikan dua belas butir adab yang harus dipenuhi seorang ilmuan dalam proses pengajarannya, yaitu:
1. Hendaknya menjelang berangkat mengajar, ia mensucikan dirinya dari hadats dan kotoran, merapikan diri, serta mengenakan pakaian yang layak yang menjadi tradisi masyarakat setempat. Semua itu dimaksudkan untuk menjaga kewibawaan ilmu dan agamanya, bukan untuk maksud-maksud lainnya, seperti pamer, popularitas dan seterusnya. Cara seperti ini, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Imam Malik, bahwa beliau ketika hendat berangkat mengajar mandi terlebih dahulu, merapikan diri, memakai pakaian yang baik, memakai minyak wangi, dan mengenakan sorban di kepalanya.
2. Berdo’a ketika hendak berangkat menuju majlis pengajaran, sebagai berikut :
Ya Allah aku berlindung kepadamu dari tersesat atau menyesatkan, dari terpeleset atau membuat orang lain terpeleset,dari kedzaliman atau mendzalimi orang lain, dari kebodohan atau membodohi orang lain .
3. Hendaknya ia mengambil posisi duduk yang bisa dilihat oleh seluruh peserta didik yang hadir di majlisnya dan menetapkan posisi mereka berdasarkan pengetahuan, usia, keshalihan dan kemuliaannya. Kemudian mungkin membuka majlis dengan basmalah dan salam yang diiringi dengan wajah yang santun, dan berwibawa.
4. Hendaknya ia memulai pelajarannya dengan membacakan beberapa ayat dari al-Qur’an untuk mengambil hikmah dan keberkahan didalamnya.
5. Jika seorang ilmuwan mengajarkan beberapa disiplin ilmu dalam satu hari, maka hendaknya mendahulukan pelajaran yang lebih mulia yaitu mengajarkan tafsir alqur’an, hadis, usuluddin, usul fiqih, madzhab, masalah khilafiyah, ilmu nahwu dan ilmu debat.
6. Seorang ilmuwan hendaknya mengatur volume suaranya sesuai dengan situasi dan kondisi yaitu tidak terlalu keras dan juga tidak terlalu pelan, karena Allah SWT mencintai suara yang pertengahan, dan membenci suara yang keras. (HR. Al-Khatib Al-Bagdady).
7. Hendaknya ia menghindari hal-hal yang sifatnya perdebatan didalam majlis ilmunya, karena hal itu tidak bermanfaat dan menyebabkan terjatuh didalam kesalahan.
8. Hendaknya ia menegur kepada para peserta didik yang kurang beradab didalam majlis ilmunya.
9. Hendaknya ia bersikap adil didalam menyampaikan materi pelajaran, dan memperlakukan semua anak didiknya secara wajar.
10. Hendaknya ia mempersilahkan kepada para peserta asing yang hadir di majlis ilmunya.
11. Hendaknya ia menutup pelajarannya dengan kalimat wallahu a’lam bi shawab, (Allah lebih mengetahui tentang kebenaran).
12. Hendaknya ia menyadari akan bidang keahliannya dan hanya mengajarkan bidang keahlian tersebut kepada para peserta didiknya.
(c) Adab ilmuwan terhadap para peserta didiknya (Adab al-‘Alim ma’a Thalabatihi)
1. Dalam mendidik para muridnya, seorang ilmuwan hendaknya berniat karena Allah dan menyebarkan ilmu, menghidupkan syi’ar agama Islam, meenegakkan kebenaran daan menghapuskan kebatilan.
2. Hendaknya seorang ilmuwan tidak putus asa didalam mendidik para muridnya yang menyimpang.
3. Hendaknya seorang ilmuwan memotivasi para peserta didiknya agar mencintai ilmu dan antusias didalam memperolehnya.
4. Hendaknya seorang ilmuwan mencintai muridnya sebagaimana mencintai dirinya.
5. Hendaknya seorang ilmuwan memilih metodologi pengajaran yang paling mudah diterima oleh para peserta didiknya.
6. Hendaknya seorang ilmuwan antusias dalam menyampaikan pelajaran kepada para peserta didiknya dengan melihat kondisi kejiwaan mereka.
7. Hendaknya seorang ilmuwan menyediakan waktu khusus untuk menguji pemahaman para peserta didik setelah mereka selesai menerima materi pelajaran.
8. Hendaknya seorang ilmuwan mengatur waktu tertentu untuk menguji hafalan terhadap peserta didiknya, tentang hal-hal yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan.
9. Hendaknya seorang ilmuwan tidak membebani peserta didiknya di luar kemampuannya.
10. Hendaknya seorang ilmuwan memberikan kaidah-kaidah penting dan masalah-masalah kontemporer yang berkaitan dengan materi pelajaran yang disampaikan kepada para pesereta didiknya.
11. Hendaknya seorang ilmuwan bersikap adil terhadap para peserta didiknya tanpa pilih kasih
12. Hendaknya seorang ilmuwan memperhatikan secara cermat perkembangan akhlak para peserta didiknya dan memberikan solusi-solusi terhadap penyimpangan akhlak mereka.
13. Hendaknya seorang ilmuwan senantiasa siap membantu murid-muridnya demi kemaslahatan mereka, baik yang bersifat moral maupun material.
14. Hendaknya seorang ilmuwan bersikap tawadhu’ terhadap peserta didiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar