Kamis, 21 September 2017

SEDEKAH TERBAIK GURU KEPADA MURID-MURIDNYA

Abdulah bin Umar RA menceritakan, ketika Rasulullah SAW sedang berkhutbah di atas mimbar menjelaskan perihal sedekah dan mencegah diri dari meminta-minta, beliau bersabda, "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan yang di atas ialah tangan yang memberi, sedangkan tangan yang di bawah ialah tangan yang meminta." (HR Muslim).

Sedekah itu panggilan jiwa. Pekerjaan hati yang ikhlas dan bahagia melihat orang lain merasa berbahagia.  Ada banyak aneka cara bersedekah.

Lantas, apakah sedekah terbaik guru untuk murid-muridnya? Pertama, tutur kata guru yang baik. Kata-kata yang terucap dari seorang guru hendaknya menggugah kesadaran, membangkitkan rasa percaya diri dan motivasi belajar pada murid, serta mendoakan hal-hal baik untuk kehidupan para muridnya.

Rasulullah SAW bersabda, "Peliharalah dirimu dari neraka walaupun dengan (bersedekah) sebelah buah kurma. Jika kamu tak sanggup, maka dengan tutur kata yang baik." (HR Muslim).

Kedua, sikap keteladanan guru. Contoh itu ada yang baik dan buruk. Namun, keteladanan sudah pasti baiknya. Keteladanan guru menginspirasi murid-murid untuk berperilaku baik secara konsisten dalam keseharian.


Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa mengerjakan baik dalam Islam, maka ia memperoleh pahala ditambah pahala orang yang mencontoh perbuatannya itu tanpa mengurangi pahala mereka masing-masing. Dan barang siapa melaksanakan pekerjaan jahat, maka ia akan mendapatkan dosanya, ditambah dosa orang-orang yang mencontoh perbuatan buruknya itu tanpa mengurangi dosa mereka masing-masing." (HR Muslim).

Ketiga, senyuman guru. Rasulullah bersabda, "Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah." (HR Tirmidzi). Wajah adalah ekspresi dari pancaran hati. Hati yang senantiasa mengingat Allah SWT, memancarkan wajah yang dipenuhi kesejukan dan senyum tulus.

Sebaliknya, hati yang dipenuhi dosa akan tampak dari wajah yang kusut masam. Guru yang murah senyum penuh ketulusan bisa menyenangkan hati para murid. Murid akan lebih terbuka dan senang berinteraksi dengan pribadi guru yang peduli dan ramah.

Keempat, harta kekayaan guru. Bagi guru yang dianugerahi harta yang cukup bahkan berlimpah, bersedekahlah! Jangan tunggu kaya untuk bisa bersedekah.

Abu Hurairah RA mengabarkan, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak seorang pun yang menyedekahkan hartanya yang halal di mana Allah menerima dengan baik, walaupun sedekahnya itu hanya sebutir kurma. Maka kurma itu akan bertambah besar di tangan Allah Yang Maha Pengasih sehingga menjadi lebih besar daripada gunung. Demikian Allah memelihara sedekahmu, sebagaimana halnya kamu memelihara anak kambing dan anak unta (yang semakin lama semakin besar)." (HR Muslim).

Di panggung dunia, seseorang bisa memainkan perannya sebagai guru. Namun, saat tirai kehidupan berakhir karena guru meninggal dunia, apakah gerangan yang bisa menyelamatkan guru di akhirat kelak?

Rasulullah SAW bersabda, "Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya." (HR Ahmad). Menjadi guru beriman yang rajin bersedekah adalah investasi terbaik untuk kehidupan akhirat kelak. Wallahu a'lam bishawab.

Sumber :
http://www.Infomendikbud.com/
http://www.republika.co.id

Minggu, 10 September 2017

MENJADI GURU BERADAB

MENJADI GURU BERADAB
Oleh: Dr. Adian Husaini

Dalam pandangan Islam, guru adalah ilmuwan dan muaddib (pendidik), karena tugas guru memang menanamkan adab dan berbagi ilmu. Dunia pendidikan sudah maklum, bahwa sukses dan gagalnya pendidikan bergantung kepada kualitas guru.  Sebuah mahfudhat yang terkenal menyatakan: ‘... wal-ustādzu ahammu min al-tharīqah, wa rūhul ustadz ahammu min al-ustadz.”  (... guru lebih penting daripada metode; dan jiwa guru lebih penting dari pada guru itu sendiri).
Ungkapan tersebut menekankan, bahwa perbaikan pendidikan memang harus dimulai dari perbaikan jiwa guru, yakni dari pola pikir dan amaliahnya. Dan itu harus dimulai dari pendidikan guru yang benar. Tidak mengherankan, jika para ulama begitu banyak menulis kitab tentang guru dan bagaimana menjadi guru yang baik. Salah satu ulama yang memberikan perhatian dalam masalah konsep adab yang memuat juga tentang adab guru adalah Ibn Jama’ah.
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah bin Ali bin Jama’ah bin Hazim bin Shakhr, lahir di Ham‘ah tahun 639 H). Kitab beliau yang terkenal adalah “Tadzikrah al-Sami’ wa al-Mutakkalim Fî Adab al-‘Ilm wa al-Muta’allim”.  Berikut ini adalah petikan adab ilmuwan (guru) yang diringkas oleh Dr. Akhmad Alim (seorang ulama muda dan dosen Universitas Ibn Khaldun Bogor) dari Kitab Ibnu Jamaah tersebut:

(a) Adab Ilmuwan Terhadap Dirinya Sendiri (Adab al-‘Alim fī Nafsihī)

Seorang ilmuwan harus syarat dengan adab. Tanpa adab, dirinya akan terjatuh dalam celaan, dan ilmu yang ada pada dirinya tidak membawa manfaat. Oleh karena itu, adab merupakan hal yang amat penting yang harus diperhatikan oleh setiap ilmuwan, agar ilmu yang dimilikinya menjadi penghias kebaikan, dan teladan bagi kehidupan. Adab ini secara keseluruhan akan menjadi pilar, yang mengantarkan ilmuwan ke dalam derajat keagungan, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Allah dalam QS.Al-Mujadilah : 11
“Allah mengangkat orang beriman dan berilmu beberapa derajat di antaramu beberapa derajat…” (Q.S. Al-Mujadalah : 11)

Dalam Kitab Tadzkirah Al-Sami’ Wa Al-Mutakallim disebutkan bahwa ada dua belas butir adab personal yang harus dimiliki oleh setiap ilmuwan, sehingga dengan adab tersebut akan lahir dari setiap ilmuan kepribadian yang patut untuk dicontoh dan dijadikan teladan dalam kehidupan. Adab tersebut adalah sebagaimana berikut :

1. Senantiasa  mendekatkan diri kepada Allah dan merasa diawasi oleh-Nya (muraqabatullah), baik ketika sendirian, maupun di keramaian. Dengan demikian, akhlaknya akan tetap  terjaga, baik lisannya, perbuatannya, pemikirannya, dan pemahamannya, serta amanah keilmuaannya.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal : 27)

Ayat ini ditafsirkan oleh Ibn Jama’ah, bahwa dengan muraqabatullah seorang ilmuan tidak akan berperilaku khianat atas ilmu yang diamanahkan kepadanya, karena khianat ilmu berarti sama dengan menghianati Allah dan Rasul-Nya. Ibn Jama’ah berdalil bahwa ilmuan (ulama) adalah pewaris para Nabi dan Rasul, “para ulama adalah pewaris Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.“ (HR. Tirmizi).
2. Hendaknya setiap ilmuan memelihara ilmunya, sebagaimana para ulama salaf memeliharanya. Artinya, ia senantiasa menjaga ilmunya agar tidak jatuh ke dalam-hal yang rendah dan hina. Seperti menukar ilmu dengan segala hal yang sifatnya materi duniawi, sehingga dirinya terhalang dalam menyampaikan kebenaran, karena kebenaran yang ada pada ilmunya telah tergadaikan dengan dunia.
3. Hendaknya setiap ilmuan berperilaku zuhud dalam urusan duniawi. Artinya, dirinya tidak menggantungkan ilmunya pada kepentingan duniawi. Dunia hanya sebagai sarana penunjang keilmuannya, bukan tujuan akhir dalam kehidupannya.
4. Hendaknya setiap ilmuan tidak menjadikan ilmunya sebagai alat untuk mencapai kepentingan-kepentingan duniawi, berupa jabatan, kekayaan, popularitas, atau untuk bersaing dengan orang lain. Dengan demikian, dirinya akan terhindar dari sifat tamak terhadap dunia, yang semua itu akan menjatuhkannya dalam kehinaan.
5. Hendaknya setiap ilmuan menghindari segala profesi, atau tempat-tempat  yang secara syari’at dan adat dipandang kurang bermartabat. Hal itu, untuk menghindari praduga-praduga negatif yang menjatuhkan martabat (muru’ah)  ilmuan.
6. Hendaknya setiap ilmuan menjaga syi’ar-syi’ar keislaman. Seperti melazimkan shalat secara berjama’ah di masjid, menyebarkan salam, beramar ma’ruf nahi munkar, sabar dan santun dalam bersikap. Demikian juga termasuk bagian syi’ar adalah berpegang teguh terhadap sunnah dalam bersikap, dan menjauhi segala macam bid’ah. Semua itu, akan melahirkan citra posisif terhadap diri ilmuan dan ilmu yang diembannya.
7. Hendaknya setiap ilmuan menjaga amalan-amalan sunah, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan. Seperti, rutinitas membaca Al-Qur’an beserta renungan maknanya, menjaga shalat-shalat sunat, puasa-puasa sunat, qiyamul lail, berdzikir, bershalawat, bertasbih. Demikian itu akan menambah kekuatan ruhani pada diri ilmuwan, sehingga teguh pendiriannya dalam mengemban amanah ilmunya.
8. Hendaknya setiap ilmuan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap masyarakat, memperlakukan mereka dengan akhlak yang mulia. Seperti, berwajah ceria saat berjumpa orang lain, menyebarkan salam, peduli sosial, membatu orang yang sedang kesusahan, pandai berterimakasih, membela orang yang tertindas, lemah lembut terhadap fakir miskin, dan bekerjasama dalam kebajikan.
9. Hendaknya setiap ilmuan mensucikan dirinya dari segala bentuk akhlak tercela, dan menghiasi dirinya dengan akhlak terpuji, baik lahir maupun batin. Oleh karenanya seorang ilmuan harus mengosongkan dirinya dari sifat iri hati, pemarah, menipu, takabur, pamer, mencari popularitas (sum’ah), persaingan duniawi, dusta, kikir. Kemudian mengisi dirinya dengan sifat qana’ah, pemaaf, jujur, tawadhu’, ikhlas, sidiq, amanah, dermawan.
10. Hendaknya setiap ilmuan rajin menambah wawasan keilmuannya, dengan cara memperbanyak membaca, menghapal, menganalisa, mengkaji masalah, meneliti, dan  menuangkannya dalam bentuk  karya ilmiyah. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh Imam Syafii, dimana menurut salah satu muridnya yang bernama Ar-Rabi’, bahwa Imam Syafii jarang makan pada siang harinya, dan jarang tidur pada malam harinya, karena disibukkan dengan mengkaji banyak masalah-masalah keilmuan dan membukukannya.
11. Hendaknya setiap ilmuan tidak segan untuk belajar kepada orang  yang berada di bawahnya, baik secara usia, kedudukan, maupun nasab. Hal itu dikarenakan, ilmu dan hikmah adalah barang yang hilang dari dari tangan orang mukmin, yang harus diraih kembali kepangkuannya.
12. Hendaknya setiap ilmuan memiliki keahlian dalam dunia tulis  menulis, khususnya dalam bidang yang ditekuninya. Hal itu dimaksudkan sebagai wahana untuk menyalurkan ilmunya di tengah-tengah masyarakat luas, dan pengembangan dunia akademik.

(b) Adab Ilmuwan dalam Proses Pengajaran (Adab al-‘Alim Fī Darsihī)

Setelah seorang ilmuwan memenuhi dua belas adab personal sebagaimana yang telas disebutkan di atas, selanjutnya ia dituntut pula untuk mengaplikasikan adab akademis lainnya yang berkaitan dengan kegiatan pengajaran yang ditekuninya. Dalam hal ini, Ibn Jama’ah menguraikan dua belas butir adab yang harus dipenuhi seorang ilmuan dalam proses pengajarannya, yaitu:
1. Hendaknya menjelang berangkat mengajar, ia  mensucikan dirinya dari hadats dan kotoran, merapikan diri, serta mengenakan pakaian yang layak yang menjadi tradisi masyarakat setempat. Semua itu dimaksudkan untuk menjaga kewibawaan ilmu dan agamanya, bukan untuk maksud-maksud lainnya, seperti pamer, popularitas dan seterusnya. Cara seperti ini, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Imam Malik, bahwa beliau ketika hendat berangkat mengajar mandi terlebih dahulu, merapikan diri, memakai pakaian yang baik, memakai minyak wangi, dan mengenakan sorban di kepalanya.
2. Berdo’a ketika hendak berangkat menuju majlis pengajaran, sebagai berikut :

Ya Allah aku berlindung kepadamu dari tersesat atau menyesatkan, dari terpeleset atau membuat orang lain terpeleset,dari kedzaliman atau mendzalimi orang lain, dari kebodohan atau membodohi orang lain .
3. Hendaknya ia mengambil posisi duduk yang bisa dilihat oleh seluruh peserta didik yang hadir di majlisnya dan menetapkan posisi mereka berdasarkan pengetahuan, usia, keshalihan dan kemuliaannya. Kemudian mungkin membuka majlis dengan basmalah dan salam yang diiringi dengan wajah yang santun, dan berwibawa.
4. Hendaknya  ia memulai pelajarannya dengan membacakan beberapa ayat dari al-Qur’an untuk mengambil hikmah dan keberkahan didalamnya.
5. Jika seorang ilmuwan mengajarkan beberapa disiplin ilmu dalam satu hari, maka hendaknya mendahulukan pelajaran yang lebih mulia yaitu mengajarkan tafsir alqur’an, hadis, usuluddin, usul fiqih, madzhab, masalah khilafiyah, ilmu nahwu dan ilmu debat.
6. Seorang ilmuwan hendaknya mengatur volume suaranya sesuai dengan situasi dan kondisi yaitu tidak terlalu keras dan juga tidak terlalu pelan, karena Allah SWT mencintai suara yang pertengahan, dan membenci suara yang keras. (HR. Al-Khatib Al-Bagdady).
7. Hendaknya ia menghindari hal-hal yang sifatnya perdebatan didalam majlis ilmunya, karena hal itu tidak bermanfaat dan menyebabkan terjatuh didalam kesalahan.
8. Hendaknya ia menegur kepada para peserta didik yang kurang beradab didalam majlis ilmunya.
9. Hendaknya ia bersikap adil didalam menyampaikan materi pelajaran, dan memperlakukan semua anak didiknya secara wajar.
10. Hendaknya ia mempersilahkan kepada para peserta asing yang hadir di majlis ilmunya.
11. Hendaknya ia menutup pelajarannya dengan kalimat wallahu a’lam bi shawab, (Allah lebih mengetahui tentang kebenaran).
12. Hendaknya ia menyadari akan bidang keahliannya dan hanya mengajarkan bidang keahlian tersebut kepada para peserta didiknya.

(c) Adab ilmuwan terhadap para peserta didiknya (Adab al-‘Alim ma’a Thalabatihi)

1. Dalam mendidik para muridnya, seorang ilmuwan hendaknya berniat karena Allah dan menyebarkan ilmu, menghidupkan syi’ar agama Islam, meenegakkan kebenaran daan menghapuskan kebatilan.
2. Hendaknya seorang ilmuwan tidak putus asa didalam mendidik para muridnya yang menyimpang.
3. Hendaknya seorang ilmuwan memotivasi para peserta didiknya agar mencintai ilmu dan antusias didalam memperolehnya.
4. Hendaknya seorang ilmuwan mencintai muridnya sebagaimana mencintai dirinya.
5. Hendaknya seorang ilmuwan memilih metodologi pengajaran yang paling mudah diterima oleh para peserta didiknya.
6. Hendaknya seorang ilmuwan antusias dalam menyampaikan pelajaran kepada para peserta didiknya dengan melihat kondisi kejiwaan mereka.
7. Hendaknya seorang ilmuwan menyediakan waktu khusus untuk menguji pemahaman para peserta didik setelah mereka selesai menerima materi pelajaran.
8. Hendaknya seorang ilmuwan mengatur waktu tertentu untuk menguji hafalan terhadap peserta didiknya, tentang hal-hal yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan.
9. Hendaknya seorang ilmuwan tidak membebani peserta didiknya di luar kemampuannya.
10. Hendaknya seorang ilmuwan memberikan kaidah-kaidah penting dan masalah-masalah kontemporer yang berkaitan dengan materi pelajaran yang disampaikan kepada para pesereta didiknya.
11. Hendaknya seorang ilmuwan bersikap adil terhadap para peserta didiknya tanpa pilih kasih
12. Hendaknya seorang ilmuwan memperhatikan secara cermat perkembangan akhlak para peserta didiknya dan memberikan solusi-solusi terhadap penyimpangan akhlak mereka.
13. Hendaknya seorang ilmuwan senantiasa siap membantu murid-muridnya demi kemaslahatan mereka, baik yang bersifat moral maupun material.
14. Hendaknya seorang ilmuwan bersikap tawadhu’ terhadap peserta didiknya.

Sabtu, 09 September 2017

HATI-HATI, JANGAN MENDIDIK ANAK DENGAN KEBAHAGIAN YANG MATERIALISTIS

Di jaman yang lebih banyak mengukur kebahagiaan dan kesuksesan dengan materi; kita haruslah sangat berhati-hati saat memilih cara mendidik anak. Niat kita bisa saja ingin memberikan yang terbaik untuk anak; tapi tanpa disadari kita malah mendidiknya menjadi anak materialistis.

Menenangkan tangisan anak dengan mainan baru, ataupun menjanjikan hadiah bisa jadi cara yang salah dalam mendidik mereka.

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa anak-anak yang tumbuh dengan aneka barang mahal, uang jajan yang besar, akan tumbuh jadi anak bermasalah nantinya. Mereka akan menjadikan benda sebagai orientasi hidup dan kebahagiaan mereka. Padahal kita tahu, masih banyak hal lain yang bisa jadi sumber kebahagiaan.

Tidak hanya masalah mainan dan aneka barang mahal yang bisa menyebabkan anak manja. Generasi muda jaman sekarang punya banyak jadwal kegiatan tapi tidak untuk melakukan pekerjaan sehari-hari.

Mereka memiliki waktu untuk latihan basket, les piano, tapi tidak untuk merapikan kamar, menyetrika baju, atau malah membuang sampah yang menumpuk di sudut ruangan.

Penelitian telah menunjukkan, bahwa anak-anak materialistis seringkali tumbuh menjadi pribadi materialistis pula. Sayangnya kondisi ini disebut berkaitan dengan ketidakbahagiaan di masa dewasa.

Lalu cara mendidik anak seperti apa yang mendorong anak menjadi materialistis?

Journal of Consumer Research tahun 2015 menyebutkan bahwa anak-anak yang menjadi materialistis memiliki dua pemahaman:

#1. Bahwa sukses diukur oleh kualitas dan jumlah barang yang mereka miliki

#2. Bahwa bila mereka memiliki produk tertentu maka mereka akan memiliki lebih banyak teman

Mereka beranggapan bahwa memiliki beberapa produk tertentu akan membuat mereka dikelilingi oleh lebih banyak orang. Mereka akan senantiasa merengek meminta hal-hal baru seperti yang dimiliki teman-temannya. Mereka juga meminta orangtuanya memberikan barang yang lebih baik daripada benda-banda milik temannya.

Tentu saja sebagian besar orangtua tidak sengaja menanamkan pemahaman tersebut kepada anak-anaknya. Namun, cara mendidik anak yang mereka terapkan, tanpa disadari, membangun kedua pemahaman di atas.

Cara mendidik anak yang memicu materialisme

Para peneliti menyebutkan ada tiga cara mendidik anak yang mendorong pemahaman materialism pada anak:

1. Menghadiahi anak ketika mencapai prestasi atau menyelesaikan tugas yang memang menjadi kewajiban mereka

Menghadiahi anak karena mereka mendapat nilai bagus, atau menjanjikan mereka smartphone baru bila mereka lulus ujian tertentu bisa menimbulkan dan mengubah pemikiran anak terhadap apa yang seharusnya memang mereka selesaikan.

Mereka tidak lagi menjadikan belajar sebagai kewajiban  mereka, namun mereka belajar karena ingin mendapatkan hadiah.

2. Memberikan hadiah sebagai cara untuk menunjukkan rasa sayang


Sering memberikan hadiah sebagai tanda untuk menunjukkan kasih sayang bisa memberikan pemahaman pada anak bahwa dicintai berarti selalu mendapatkan hadiah.

3. Menghukum anak dengan mengambil barang kesayangan mereka

Para peneliti mengkawatirkan bahwa cara ini malah bisa menumbuhkan rasa mereka lebih membutuhkan benda-benda kesayangan tersebut untuk membuat mereka lebih nyaman.

Hubungan orangtua - anak ternyata juga bisa mempengaruhi timbulnya sifat materialistis

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa kehangatan, dan kasih sayang orangtua berkontribusi besar terhadap tingkah laku materialistis anak. Orangtua yang jarang memiliki waktu bersama anak bisa jadi lebih mudah memenuhi setiap permintaan anak.

Meskipun begitu, gejala ini juga bisa tumbuh pada anak yang merasa ditolak oleh lingkungannya. Anak-anak yang merasa orangtuanya tidak bangga akan dirinya, bisa saja mencari kenyamanan pada benda-benda yang mereka miliki.

Anak-anak yang tidak banyak menghabiskan waktu di rumah bersama orangtuanya biasanya juga sering merasa kesepian dan menggunakan mainan serta benda-benda elektronik sebagai cara untuk mengusir rasa sepi mereka.

Jadi, cara mendidik anak seperti apa yang seharusnya kita pilih dan lakukan?

Berita baiknya, kita tidak harus menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat hadiah atau kesenangan tertentu hanya untuk mencegah anak dari sikap materialistis. Bagaimanapun juga memberikan hadiah pada anak karena alasan yang tepat juga merupakan hal yang baik.

Tidak masalah juga untuk mengambil barang kesayangan mereka sebagai sebuah hukuman atau konsekuensi. Dan ya, kadang konsekuensi paling logis memang mengambil sesuatu yang menjadi kesukaan si kecil; seperti smartphone atau sepeda. Yang penting adalah bukan jenis hukumannya yang kita tekankan sebagai konsekuensi negatif.

Berikut ini adalah cara mendidik anak yang mencegah tumbuhnya sifat materialistis :

1. Tumbuhkan kebiasaan bersyukur

Ajari anak untuk bersyukur pada Tuhan atas semua hal yang mereka miliki akan mencegah anak untuk berpikir bahwa ia tidak akan bahagia bila tidak memiliki benda-benda yang lebih dari miliknya saat ini.

3. Fokuslah pada bagaimana menghabiskan waktu berkualitas bersama anak

Daripada memberikan hadiah untuk anak, cobalah beraktivitas bersama anak. Jalan bersama, bermain di lapangan, atau malah bermain papan permainan bersama.

2. Ajari anak sikap kedermawanan

Anak akan belajar banyak dari tindakan kita bersedekah daripada hanya bercerita kepada mereka. Tunjukkan pada anak kita bahwa kita juga bersedia berbagi dengan orang lain. Misalkan dengan cara berbagi kue dengan tetangga, bergotong-royong untuk kegiatan di lingkungan rumah, berbagi dengan anak yatim dan masih banyak lagi.

Apapun itu, mendidik anak memang butuh proses; termasuk menanamkan nilai-nilai tertentu pada anak. Pastikan bahwa Parents memberikan pesan yang jelas dan baik kepada anak. Agar kelak mereka tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan orang dewasa yang bahagia.

Sumber :
www:infokemendikbud.com
https://id.theasianparent.com

7 Tipe Guru Yang Paling Disukai Murid

Seorang guru adalah orang yang memberikan kita pengetahuan dan meningkatkan kesadaran kita tentang dunia luar. Saat ini, kita dapat memiliki akses ke semua pengetahuan ini melalui internet dan sarana lain, tetapi sumber-sumber pengetahuan tidak akan memberikan pengalaman kehidupan nyata dan pengetahuan praktis yang hanya seorang guru dapat memberikannya.
Selain itu, pengetahuan teoritis hanya akan memberikan kita dengan rumus dan hukum tetapi pengetahuan praktis yang akan kita dapatkan yang akan membantu kita untuk membuat keputusan yang lebih baik.
Kita menghabiskan hampir delapan sampai sepuluh jam di bawah pengawasan guru. Apa yang kita pelajari selama delapan sampai sepuluh jam adalah bagian penting dari kehidupan kita, karena merupakan bekal masa depan.
Guru adalah mereka yang memainkan peran orang tua untuk delapan sampai sepuluh jam ketika kita berada di sekolah. Ada beberapa kualitas yang ideal yang dibutuhkan untuk seorang guru yang baik.  
1. Mengajar harus interaktif
Ketika durasi kelas panjang, siswa biasanya tidak memperhatikan dan ini dapat mempengaruhi mereka dalam studi mereka jika mereka melewatkan topik penting. Hal ini biasanya terjadi ketika seorang guru tidak berinteraksi dengan siswa.
Beberapa siswa bahkan tertidur selama kelas. Sangat penting bagi guru untuk berkomunikasi dengan siswa selama kelas sehingga mereka dapat memperhatikan dan dengan demikian tidak melewatkan topik apapun. Kelas harusnya lebih seperti diskusi, sehingga setiap orang dapat berbicara tentang pandangan mereka dan pada saat yang bisa belajar sesuatu yang baru.
2. Ramah
Meskipun sangat penting bagi seorang guru untuk mempertahankan disiplin dan ini benar juga jika kita melihat dari sudut pandang guru tapi kadang-kadang pembatasan banyak dapat membuat hal-hal lebih buruk. Ada beberapa hal yang hanya dapat dilakukan untuk memahami secara tenang dan sopan.
Ketika seorang guru ramah dengan siswanya, mereka akan merasa bebas untuk berbagi apa-apa dengan guru mereka. Ini dapat bermanfaat sebagai guru dapat membimbing mereka sebagai teman dan dengan demikian dapat membantu mereka dalam mengambil keputusan yang tepat.
3. Menjadi panduan
Setiap siswa pasti memiliki masalahnya masing-masing, jika masalah berhubungan dengan kariernya kemudian orang tuanya dapat membantu. Tetapi jika masalah tersebut terkait dengan masalah sekolah, maka ia mendongak ke gurunya untuk dukungan dan bimbingan. Guru harus mampu memberikan bimbingan kepada murid-muridnya setiap kali mereka membutuhkannya.
4. Memiliki selera humor
Siswa ingin ketika mengajar dibuat menyenangkan, kelas membosankan membuat siswa resah. Hal ini sangat diperlukan bahwa seorang guru harus memiliki rasa humor yang baik, sehingga ia dapat menambahkan unsur fun dalam mengajar dan dengan demikian dapat mencegah siswa dari tidur. Juga, siswa seperti itu ketika guru menghabiskan kuliah, berbicara tentang pengalaman mereka dan berbagi kenangan mereka, karena akan memberikan mereka istirahat dan juga akan menyegarkan mereka.
5. Tidak memberikan tes tiba-tiba
Tidak ada satu siswa yang suka tes kejutan. Tes dilakukan, sehingga siswa dapat memiliki revisi dari semua yang dia telah mempelajari. Jika seorang siswa akan memiliki pengetahuan tentang tes di muka, ia bisa mempersiapkan untuk itu dan dengan cara ininya revisi juga akan dilakukan. 
6. Cool Minded
Siswa biasanya tidak suka kalau guru-guru mereka menghina mereka di depan kelas mereka tanpa memahami masalah mereka. Hal ini diperlukan bahwa seorang guru harus dapat membedakan antara alasan dan masalah asli dan kemudian bertindak sesuai. Seorang guru sehingga harus sabar dan berpikiran dingin dan tidak harus dan menghina siswa tanpa mengetahui alasan yang sebenarnya.
7. Toleran
Siswa biasanya lebih suka guru-guru yang toleran apakah mengenai kehadiran, atau apa pun. Guru yang memiliki sifat toleran biasanya merupakan favorit setiap siswa. Seorang guru tidak harus ekstra ketat atau kasar terhadap siswa karena mereka akan kemudian tidak bisa membuka diri dan dengan demikian tidak akan dapat meminta permintaan dan mengambil nasihat dari guru. Ekstra kelonggaran juga tidak disukai karena dapat membuat siswa membangkang. Jadi, guru harus menjaga keseimbangan dan tidak boleh terlalu lunak dan terlalu ketat.

Sumber :
http://infokemendikbud.com/
http://student.cnnindonesia.com/

Kamis, 07 September 2017

Cara Mengajar Kurikulum 2013

EXAMPLES NON EXAMPLES Contoh dapat dari kasus/gambar yang relevan dengan KD Langkah-langkah :

•   Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
•   Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP
•  Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar
•  Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
•  Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
•  Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
•    Kesimpulan

2.    PICTURE AND PICTURE Langkah-langkah :

•    Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
•    Menyajikan materi sebagai pengantar
•    Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
•  Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
•    Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
•  Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
•    Kesimpulan/rangkuman

3. NUMBERED HEADS TOGETHER (Kepala Bernomor, Spencer Kagan, 1992) Langkah-langkah :

•   Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
•   Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
• Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
•  Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
•    Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
•    Kesimpulan

4.  COOPERATIVE SCRIPT (Dansereau Cs., 1985) Skrip kooperatif : metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari Langkah-langkah :

•    Guru membagi siswa untuk berpasangan
•    Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
•   Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
•   Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar : -    Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap -    Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
•  Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
•    Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru
•    Penutup

5.  KEPALA BERNOMOR STRUKTUR  (Modifikasi Dari Number Heads) Langkah-langkah :

1.    Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
2.   Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya
6. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
7.    Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
8.    Kesimpulan


6. STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) TIM SISWA KELOMPOK PRESTASI (SLAVIN, 1995) Langkah-langkah :

1.    Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
2.    Guru menyajikan pelajaran
3.  Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4.   Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
5.    Memberi evaluasi
6.    Kesimpulan

7.    JIGSAW (MODEL TIM AHLI) (Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, And Snapp, 1978) Langkah-langkah :

1.    Siswa dikelompokkan ke dalam = 4 anggota tim
2.    Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3.    Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
4.    Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
5.  Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
6.    Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
7.    Guru memberi evaluasi
8.    Penutup

8. PROBLEM BASED INTRODUCTION (PBI) (Pembelajaran Berdasarkan Masalah) Langkah-langkah :

1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah. 4. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

9.  ARTIKULASI Langkah-langkah :

1.    Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
2.    Guru menyajikan materi sebagaimana biasa
3.    Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang
4.  Suruhlan seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya
5. Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya
6.    Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa
7.    Kesimpulan/penutup

10. MIND MAPPING Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban Langkah-langkah :

1.   Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
3.  Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
4.  Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
5.  Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
6.  Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru.

Sumber : 

http://infokemendikbud.com/

http://www.kompasiana.com/

Mengatasi Siswa Ramai

Siswa memang dari sananya ada yang senangnya ribut, senangnya belajar dan bahkan ada yang senangnya main. Semua guru TK/SD pasti mengerti mengenai hal ini. Jika satu kelas anda merasakan menjadi ribut saat anda mengajar barulah anda mesti bertanya kedalam hati hal apa yang anda sudah lakukan sehingga membuat situasi tidak terkendali. Ada beberapa hal yang penting saat ingin mengatasai keriuhan atau ribut saat anda sedang mengajar di kelas

FAKTA
• Siswa gaduh saat kembali dari kegiatan luar ruang, entah itu olah raga atau kegiatan lainnya yang berlangsung di luar kelas
• Siswa ribut karena siswa sedang ngobrol kepada sesamanya
• Guru merasakan siswa ribut karena ia ingin langsung mengajar memberikan materi saat masuk kelas
• Siswa gaduh saat terkejut, misalnya anda masuk kelas dan langsung katakan “yak kita ulangan” tanpa pemberitahuan sebelumnya.

SOLUSI : LAKUKAN SISTEM 5 MENIT PERTAMA YANG BERNILAI

• 5 menit pertama yang bernilai. Ini adalah istilah yang membuat seorang guru langsung bisa tahu apakah siswanya siap atau tidak untuk mengajar. Berlakukan hal ini, sisihkan waktu 5 menit pertama untuk biarkan siswa habiskan pembicaraannya dengan temannya. Sambil menunggu anda juga bisa hampiri meja satu atau dua orang anak yang introvert, bicara dan sapalah ia.
• Hindari memaksakan langsung mengajar saat masuk ke kelas, atau lakukan hal-hal yang jadul misalnya mengabsen satu persatu padahal anda bisa bertanya “siapa ya yang hari ini tidak hadir?” kepada seluruh siswa.
• 5 menit pertama guru tetap menghitung siapa siswa yang terlambat, bukan berarti 5 menit adalah waktu yang membiarkan siswa yang terlambat tetap dianggap tepat waktu.
• 3 menit terakhir katakan “yak saya kan memulai kelas dalam hitungan menit!” perkataan tadi akan membuat siswa menyiapkan dirinya sendiri untuk siap menerima pelajaran.

Wajar jika seorang guru sangat ingin segera memulai kelas apalagi jika ia sudah siap dengan setumpuk rencana, namun berbahaya jika ia terlalu memaksakan. Apalagi di jam rawan misalnya jam setelah istirahat, setelah makan siang atau saat di pagi hari. Guru yang berhasil adalah guru yang bisa membuat diri dan muridnya punya ikatan batin atau tiada prasangka antar siswa dan guru. 5 menit pertama sangat baik dilakukan untuk membuat kelas kondusif karena rasa saling percaya.

Sumber : https://gurukreatif.wordpress.com/

Selasa, 05 September 2017

20 Metode Mengajar Yang Telah Dipraktekkan Oleh Rasulullah

Sukses menjadi guru tak semata-mata karena menenteng ijazah dari fakultas keguruan atau mendapat sertifikasi profesional. Guru keren di mata dan hati siswa juga beken dan dijadikan favorit karena metode mengajar asyik dan menarik. Mau tahu 20 metode mengajar yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW ? 

Salah satu faktor penting kejayaan pendidikan Rasulullah SAW adalah karena beliau menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi umatnya. Tentu, guru yang baik seharusnya menjadi teladan dan model bagi siswanya. Ucapan dan tindakan guru harus sejalan dan sejujurnya. Ingat ungkapan ini 'jangan ada dusta diantara guru dan siswa'.

Nio Gwan Chung (Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec) dalam bukunya Muhammad SAW The Super Leader Super Manager menuliskan 20 metode dan teknik pengajaran sebagai "Holistic Learning Methods', yaitu : 

1. Learning conditioning (meminta diam untuk mengingatkan, menyeru secara langsung dan perintah untuk menyimak dan diam dengan cara tidak langsung);

2. Active interaction (interaksi pendengaran : teknik berbicara, tidak bertele-tele pada ucapan dan tidak terlalu bernada puitis, memperhatikan intonasi, diam sebentar ditengah-tengah penjelasan; interaksi pandangan : eye contact dalam mengajar, memanfaatkan ekspresi wajah, tersenyum); 

3. Applied-learning (metode praktikum yang diterapkan oleh guru dan yang dilakukan oleh siswa); 

4. Scanning and levelling (memahami siswa secara individu sesuai tingkat kecerdasannya); 

5. Discussion and feed-back (metode yang logis dalam memberikan jawaban dan membuat contoh sederhana yang mudah dipahami); 

6. Story telling (bercerita); 

7. Analogy and case study (memberikan perumpamaan dan studi kasus nyata di sekitar kehidupan); 

8. Teaching and Motivating (meningkatkan gairah belajar dan rasa keingintahuan yang tinggi); 

9. Body language (membuat penyampaiannya bertambah terang, lebih pasti dan jelas; menarik perhatian pendengar dan membuat makna yang dimaksud melekat pada pikiran; mempersingkat waktu); 

10. Picture and graph technology (penjelasan diperkuat dengan gambar atau tulisan); 

11. Reasoning and argumentation (mengungkapkan alasan akan memperjelas sesuatu yang sulit dan berat agar dipahami oleh siswa); 

12. Self reflection (memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab sendiri suatu pertanyaan agar siswa dapat mengoptimalkan kerja otak dan mengasah pikiran); 

13. Affirmation and repetition (pengulangan kalimat dan ucapan nama); 

14. Focus and point basis ( menggunakan teknik berdasarkan rumusan-rumusan besar atau poin akan membantu siswa dalam menyerap ilmu dan menjaganya dari lupa); 

15. Question and answer metodh (teknik bertanya untuk menarik perhatian pendengar dan membuat pendengar siap terhadap apa yang akan disampaikan kepadanya); 

16. Guessing with question (penting untuk memperkuat pemahaman dan memperbesar keingintahuan);

17. Encouraging student to ask (guru memberikan kesempatan dan motivasi kepada siswa untuk berani mengajukan pertanyaan : bertanya dapat menghapus kebodohan serta memperbaiki pemahaman dan pemikiran dan menjadi alat evaluasi guru atas cara penyampaian pelajarannya); 

18. Wisdom in answering question (menyikapi orang-orang yang mengajukan pertanyaan sesuai dengan tingkat pengetahuannya; menyikapi si penyanya dengan sikap yang bermanfaat baginya); 

19. Commenting on student question (memberikan komentar terhadap jawaban siswa); 

20. Honesty (seorang guru harus menanamkan sikap mulia berani mengakui ketidaktahuan ke dalam diri siswanya. ucapan 'aku tidak tahu adalah bagian dari ilmu')

Sumber : http://www.kompasiana.com/

Senin, 04 September 2017

MENGATASI ANAK MALAS BELAJAR

Salah satu permasalahan yang sering dialami oleh orangtua adalah memiliki anak yang malas belajar hingga malas pergi ke sekolah. Banyak faktor yang menjadi penyebab kondisi pada anak-anak tersebut, seperti suka nonton TV, bermain game, otak-atik HP, internetan,asyik dengan WA, kecanduan medsos Fb, Twitter, dan lain-lain.

Anak-anak juga menganggap bahwa belajar dan sekolah bukanlah kegiatan yang menyenangkan. Oleh sebab itu, Anda harus dapat mengambil sikap untuk mengatasi permasalahan tersebut. Lalu, tindakan apa saja yang dapat dilakukan?

A. Cara Mengatasi Anak Malas Belajar di Rumah
1. Lakukan Pendampingan
Ketika anak-anak malas belajar, sebaiknya Anda berikan pendampingan. Karena hal tersebut dapat membuat mereka merasa diperhatikan serta membangkitkan semangatnya kembali. Ajari anak-anak dengan tekun dan sabar serta ciptakan suasana yang menyenangkan agar mereka tidak mudah bosan.

2. Memilih Buku yang Menarik
Terkadang anak-anak malas belajar karena suasana yang dirasakan terlalu membosankan. Salah satu siasat yang dapat Anda lakukan adalah melalui buku-buku pembelajaran. Anda dapat memilih buku dengan gambar dan warna-warna menarik yang dapat membuat mereka lebih bersemangat.

3. Jangan Emosional
Memarahi anak ketika mengalami kesulitan belajar atau bertanya pada Anda hanya akan membuat mereka trauma serta enggan belajar lagi. Oleh sebab itu, Anda harus senantiasa bersikap sabar ketika menemani anak-anak belajar dan berikan bantuan semaksimal mungkin.

4. Belajar Sebelum Tidur
Tindakan ini tidak harus dilakukan dengan duduk sambil membaca buku. Anda dapat mengajak anak-anak latihan berhitung atau membaca sebelum tidur karena memorinya yang mudah merekam dan akan diingat ketika esok harinya.

5. Jam Belajar yang Tidak Berlebihan
Orangtua seringkali menyuruh anak-anak belajar dengan durasi waktu berjam-jam agar mendapatkan nilai yang baik. Namun, hal tersebut bukanlah tindakan yang tepat.

Menganjurkan anak belajar dengan durasi waktu yang lama justru membuat memori otak cepat lelah dan tidak mampu menerima materi lagi serta dapat membuat mereka merasa stres.

6. Menjelaskan Manfaat Belajar
Jika Anda mengalami kesulitan saat mengatasi anak-anak yang malas belajar, maka Anda dapat menjelaskan mengenai manfaat belajar. Dengan mengetahui hal tersebut, mereka dapat lebih bersemangat untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

B. Cara Mengatasi Anak Malas Berangkat ke Sekolah
1. Bantu Anak Mendapat Teman
Sebagian besar alasan anak-anak malas ke sekolah karena kurang nyamannya suasana yang dirasakan serta kesulitan ketika mencari teman. Oleh sebab itu, Anda dapat membantu mereka mencari teman, misalnya dengan membuat pesta kecil di rumah dengan mengundang teman sekelasnya.

2. Berikan Penghargaan
Jika anak mulai rajin pergi ke sekolah, Anda dapat memberikannya penghargaan, seperti hadiah kecil-kecilan atau mengajaknya pergi ke suatu tempat yang diinginkannya. Hal ini akan membuat anak merasa lebih semangat untuk pergi ke sekolah.

3. Mengatur Pola Istirahat
Untuk menghindari anak-anak malas untuk pergi ke sekolah, sebaiknya Anda mengatur pola istirahatnya secara teratur agar tidak tidur terlalu larut malam. Sehingga esok harinya dia tidak akan terlambat untuk bangun. Selain itu, usahakan mereka selalu istirahat malam dengan durasi 8 hingga 9 jam per hari.

4. Mengatasi Kekerasan di Sekolah
Jika anak malas pergi ke sekolah karena adanya perselisihan antar teman sebayanya, sebaiknya Anda segera menyelesaikan permasalahan tersebut dengan menemui guru atau Kepala Sekolah. Jadi Anda tidak perlu menemui anak yang bermusuhan dengan putra/putri Anda dan/atau wali muridnya. Hal ini malah bisa memperkeruh keadaan. Cukup temui Kepsek atau wali kelasnya, biar pihak sekolah yang mengatasinya.

5. Buat Media Pembelajaran yang Mudah
Dalam hal ini, Anda dapat melakukan diskusi bersama guru untuk menemukan solusi yang paling tepat. Anda dapat mencoba menggunakan media Internet sebagai solusinya karena tampilan yang menarik dapat membuat anak lebih nyaman menggunakannya.

Sumber : http://www.websitependidikan.com/

BAGAIMANA CARA MENATA SEKOLAH AGAR MENJADI LEBIH BAIK ?

Oleh: Muhammad Sholihin [Mantan Kepsek SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya] Ketika  ditanya sama kawan saya, Bagaimana cara menata sekolah a...